narastya, Cilacap — Komitmen Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap dalam mendorong pemanfaatan energi bersih sekaligus pemberdayaan masyarakat terus diperkuat melalui berbagai program berbasis energi baru terbarukan (EBT).
Hal itu disampaikan Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Agustiawan, pada kuliah umum Dies Natalis ke-3 Program Studi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan Politeknik Negeri Cilacap (PNC) di kampus tersebut, Selasa (11/8/2026).
Agustiawan menyampaikan pengembangan energi bersih tidak hanya terkait energi alternatif, tetapi juga dapat menjadi penggerak pemberdayaan, penguatan ekonomi lokal, serta upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dikatakan, salah satu pendekatan dalam EBT ini adalah pemanfaatan potensi energi surya di Jawa Tengah. Tercatat 12 lokasi potensial pengembangan PLTS dengan karakteristik lahan dan aksesibilitas yang mendukung, salah satunya wilayah Cilacap dengan potensi yang cukup tinggi.
Dicontohkan implementasi pemberdayaan EBT di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Cilacap berupa program Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan (MAPAN). Ini adalah unggulan TJSL pemberdayaan petani dan pelaku UKM pertanian melalui pendekatan holistik dan berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
“Tercatat 233 orang penerima manfaat, terdiri dari petani gurem, petani perempuan, buruh tani harian, anak-anak dan masyarakat miskin. EBT mendukung aktivitas pertanian, seperti irigasi PLTS, irigasi energi hybrid, inovasi penyemprot pestisida, hortikultura dan irigasi tetes berbasis EBT, hingga integrasi sistem pertanian dari hulu ke hilir,” ungkapnya.
Pada kolaborasi EBT Program Kalijaran MAPAN, total daya mencapai 17.540 Wp yang berkontribusi positif pada aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan well-being.
“Di sisi lingkungan program ini juga mencatat pengelolaan 660 kg limbah pertanian dan rata-rata debit air sebesar 150.000 liter per hari,” tegasnya.
Di sisi ekonomi, program menghasilkan pendapatan padi Rp220,35 juta per panen per kelompok, pendapatan diversifikasi produk Rp5,335 juta per bulan, serta hasil panen hortikultura dan perikanan Rp7,15 juta. Selain itu, tercatat penghematan penggunaan pompa diesel, Rp4,5 juta.
Agustiawan juga menyoroti pemanfaatan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO) sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF). “Pengolahan UCO menjadi SAF dapat menurunkan emisi Gas Rumah Kaca hingga 80 persen dibandingkan pengolahan kerosene menjadi avtur,” imbuhnya.
Koordinator Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan PNC, Radhi Ariawan menyambut baik kontribusi Kilang Cilacap dalam pengembangan EBT. “Implementasi energi bersih dari dunia industri ini penting menambah pemahaman dan pengetahuan mahasiswa, terkait pemanfaatan energi terbarukan secara nyata di masyarakat,” ujarnya.
Antusiasme juga disampaikan mahasiswa PNC, Alika, yang menilai pemaparan langsung dari perusahaan menjadi tambahan ilmu dan motivasi mahasiswa untuk tak henti belajar dan berinovasi. “Terimakasih Pertamina, materi ini menjadi bekal ilmu yang sangat bermanfaat,” kata Alika.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Pertamina Patra Niaga RU Cilacap terus mendorong pemanfaatan EBT tidak hanya sebagai solusi energi, tetapi juga sebagai instrumen untuk menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.