Menanam Kopi di Ujung Segara Anakan: Ikhtiar Patrapala Kilang Cilacap Merawat Alam dari Dataran Rendah

narastya, Cilacap – Pagi itu, perjalanan tidak dimulai dari jalan raya. Dari Markas Kopassus Daun Lumbung, Cilacap, sebanyak 81 aktivis pecinta lingkungan bersiap menembus perairan Segara Anakan. Satu perahu RIF dan empat LCR milik Kopassus menjadi kendaraan rombongan menuju sebuah ruang hijau yang tersembunyi di antara bentang mangrove.

Tujuannya adalah Arboretum Mangrove Konservasi Laguna Kawasan Segara Anakan Cilacap (Kolak Sekancil), Kampung Laut, Sabtu (29/8/2026).

Perjalanan sekitar satu jam membelah perairan Segara Anakan. Di balik riak air dan rimbunnya mangrove, rombongan Badan Pembina Olahraga (Bapor) Pertamina melalui Pecinta Alam (Patrapala) Pertamina Patra Niaga RU Cilacap akhirnya tiba di arboretum yang menjadi salah satu ruang pembelajaran sekaligus laboratorium mangrove di kawasan tersebut.

Namun, perjalanan itu bukan sekadar menyusuri perairan. Ada hal penting yang hendak ditanam dan diharapkan tumbuh jauh melampaui sebatang pohon.

Sesampainya di Arboretum Kolak Sekancil, rombongan segera melakukan penanaman 100 bibit kopi jenis Liberica. Kegiatan ini melibatkan Serikat Pekerja Pertamina Patra Wijayakusuma (SP PPWK), Manager Risk Management, Dwi Jatmoko sekaligus Pembina Bapor Patrapala, BKSDA Cilacap, Green Earth Team, Kayuwangi Foundation, serta Kopassus.

Bagi Patrapala, menanam pohon bukan hanya menambah jumlah vegetasi. Ada harapan agar setiap bibit menjadi bagian dari ekosistem yang lebih kuat sekaligus membuka pengetahuan baru mengenai kemungkinan budidaya tanaman kopi di kawasan pesisir.

Koordinator Patrapala, Fahmi Purnomo, mengatakan penanaman kopi Liberica merupakan upaya pelestarian lingkungan sekaligus riset dan penelitian.

“Kopi jenis Liberica menarik diteliti karena merupakan jenis kopi yang dapat tumbuh di dataran rendah, bahkan pada ketinggian 0 meter di atas permukaan laut,” ujar Fahmi.

whatsapp image 2026 09 01 at 06.49.26

Karakter tersebut menjadi alasan mengapa Liberica dipilih untuk ditanam di Arboretum Kolak Sekancil. Kawasan yang berada di dataran rendah itu selama ini menjadi ruang konservasi sekaligus laboratorium mangrove binaan Pertamina Patra Niaga RU Cilacap.

Di tempat ini, alam tidak hanya dijaga, tetapi juga dipelajari. Penanaman 100 bibit Liberica menjadi sebuah eksperimen kecil.

Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan yang memadukan semangat kepedulian lingkungan, kolaborasi, dan edukasi tersebut.

“Arboretum Kolak Sekancil tidak hanya penting sebagai kawasan konservasi, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan berbagai inovasi berbasis lingkungan,” ungkapnya.

Ditambahkan, kolaborasi berbagai pihak dalam kegiatan tersebut menjadi modal penting untuk memastikan upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan secara konsisten.

Di antara akar-akar mangrove yang mencengkeram lumpur, air payau yang terus bergerak, dan kehidupan yang bergantung pada ekosistem pesisir, 100 bibit kopi itu kini mendapatkan tempat untuk tumbuh.

Patrapala memilih cara sederhana merawat bumi dengan cara datang, menanam, dan belajar. Sebab menjaga alam pada akhirnya bukan hanya apa yang bisa dipetik hari ini, namun tentang apa yang masih bisa tumbuh untuk generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pertamina Pacu UMKM Naik Kelas di Panggung KTM dan GCF 2026

narastya, Kebumen — PT Pertamina (Persero) melalui Fungsi SMEPP terus berupaya menjadikan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal untuk naik kelas. Semangat pelaku UMKM binaan Subholding Downstream PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap kembali mendapatkan ruang dalam Kebumen Travel Mart (KTM) dan Gombong Culture Festival (GCF) di area Benteng Van Der Wijck, Gombong, Kamis–Sabtu (27–29/8/2026).

Tak sekadar hadir, Pertamina membawa delapan UMKM andalan, masing-masing Agromina Fiber, Sate Ambal Allisa, Mutiara Handycraft, Kopikuna, Kiye Ecoprints, Dipacraft, dan Emping Komala.

Antusiasme pengunjung terlihat tinggi. Sejak pagi hingga malam hari, booth mitra binaan RU Cilacap ramai disambangi pengunjung yang penasaran, mencicipi, melihat langsung, hingga membeli berbagai produk yang ditawarkan.

Kehadiran UMKM binaan dalam event tersebut menjadi wujud nyata Pertamina tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga membuka luas kran akses pemasaran.

Area Manager Communication, Relations & CSR RU Cilacap, Agustiawan, mengatakan partisipasi aktif dalam KTM dan GCF merupakan konsistensi Pertamina dalam memperluas jejaring dan membuka peluang pasar bagi UMKM binaan.

“Pendampingan tidak berhenti pada pelatihan. Yang tak kalah penting adalah bagaimana produk-produk mereka mendapatkan akses pasar yang lebih luas. Karena itu, kami aktif membawa mitra binaan ke berbagai pameran dan event seperti KTM dan GCF ini,” ujar Agustiawan.

Menurutnya, keikutsertaan tersebut juga menjadi momentum bagi UMKM untuk membangun jejaring, mengenalkan produk langsung kepada konsumen, sekaligus melihat peluang kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Semangatnya, membawa UMKM binaan semakin percaya diri, semakin dikenal, dan siap naik kelas. Kami ingin produk-produk lokal memiliki kesempatan bertemu pasar lebih luas,” imbuhnya.

Partisipasi Pertamina ini juga sejalan dengan semangat KTM dan GCF yang mengusung tema Connecting Business, Celebrating Culture, Promoting Tourism. Kolaborasi antara sektor usaha, budaya, dan pariwisata dinilai mampu menciptakan ekosistem yang saling menguatkan, termasuk bagi pelaku UMKM lokal.

Bupati Kebumen, Lilis Nuryani yang membuka event ini menyampaikan KTM menjadi ruang strategis yang mempertemukan potensi wisata daerah dengan pelaku industri perjalanan dari berbagai daerah.

“Lalu Gombong Culture Festival semakin memperkuat pesan bahwa pengembangan pariwisata perlu berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal. Hal ini menjadi bagian dari kekuatan ekonomi daerah yang dapat dikembangkan bersama,” ungkapnya.

Semangat tersebut semakin terasa ketika Menteri Koperasi Republik Indonesia, Ferry Juliantono, berkesempatan mengunjungi booth mitra binaan Kilang Cilacap. Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk mereka sekaligus mendapatkan perhatian langsung dari pemerintah pusat.

Ferry menegaskan komitmen pemerintah mendukung kemajuan ekonomi kerakyatan, termasuk penguatan koperasi dan UMKM sebagai salah satu penggerak perekonomian masyarakat.

Dengan langkah pendampingan yang berjalan beriringan dengan perluasan akses pemasaran, Pertamina Patra Niaga RU Cilacap terus mendorong UMKM lokal tidak hanya tumbuh di lingkungan asal, tetapi juga mampu melangkah semakin jauh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tiga DEB Binaan Pertamina Patra Niaga RU Cilacap Curi Perhatian di Festival DEB 2026

narastya, Jakarta — Tiga program Desa Energi Berdikari (DEB) binaan Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap sukses mencuri perhatian pengunjung Festival DEB 2026 Pertamina yang berlangsung di Grha Pertamina, Jakarta, Kamis–Jumat (27–28/8/2026).

Ketiga program unggulan tersebut yakni DEB berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTH) Dusun Bondan, Kecamatan Kampung Laut; DEB Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah; serta DEB Bank Sampah Abhipraya yang juga berada di Kelurahan Kutawaru.

Area Manager Communication, Relations & CSR RU Cilacap, Agustiawan, menjelaskan DEB Dusun Bondan memadukan dua inisiatif, Energi Mandiri Tenaga Surya dan Angin (E-Mas Bayu) dan Energi Mandiri Tambak Ikan (E-Mbak Mina).

“DEB Dusun Bondan hadir sebagai solusi kebutuhan penerangan listrik bagi masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan energi terbarukan untuk kegiatan produktif. Program ini telah memberikan manfaat bagi 78 kepala keluarga, 40 rumah, satu sekolah, dan satu sarana ibadah, sekaligus mendukung pengembangan tambak ikan polikultur,” jelas Agustiawan.

Sementara itu, DEB Kelurahan Kutawaru mengembangkan budidaya kepiting melalui inovasi Rumah Susun Kepiting Berbasis Energi (Rusun Tinggi). Inovasi tersebut menjadi solusi budidaya kepiting di tengah keterbatasan lahan.

Teknologi Rusun Tinggi diintegrasikan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi untuk menggerakkan aerator. Dengan konsep tersebut, budidaya kepiting dapat dilakukan secara lebih fleksibel di rumah-rumah warga tanpa membutuhkan lahan yang luas.

Adapun DEB Bank Sampah Abhipraya Kutawaru melalui program Masyarakat Mandiri Kutawaru Sistem Integrasi Pengelolaan Lingkungan Kawasan Terpojok (MAMAKU SIGAP) menghadirkan pemanfaatan energi bersih PLTS sebagai sumber energi dalam proses pengolahan dan pembuatan produk bernilai ekonomis.

Menurut Agustiawan, ketiga program ini menunjukkan bahwa pemanfaatan energi terbarukan dapat dikembangkan sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat setempat.

“Ketiga DEB ini memiliki karakteristik yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan energi bersih yang tidak berhenti pada penyediaan energi, tetapi juga menjadi penggerak aktivitas ekonomi dan kemandirian masyarakat,” imbuhnya.

Imbuh Agus, keberadaan DEB binaan ini menjadi salah satu implementasi program Cegah Boros Energi dengan Edukasi Masyarakat (CERDAS). Ini adalah salah satu program dalam rangkaian Bulan Energy 2026 melalui peningkatan kapasitas dan keterampilan masyarakat.

DEB Dorong Energi Terbarukan Jadi Penggerak Ekonomi

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, dalam sambutannya mengatakan DEB dirancang tidak hanya untuk mengenalkan energi terbarukan kepada masyarakat, tetapi juga mendorong kemampuan masyarakat memanfaatkan energi tersebut secara produktif.

“Energi terbarukan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, DEB tidak hanya menyediakan energi, tetapi juga bagaimana energi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan produktif dan meningkatkan kesejahteraan,” ujar Oki.

Hingga saat ini, Pertamina telah menjalankan 269 program DEB di berbagai wilayah. Sebanyak 166 program mengusung tema ketahanan pangan, 58 program mengembangkan wisata energi, dan 45 program berfokus pada pesisir modern.

Pemanfaatan energi terbarukan dalam program-program tersebut ditopang oleh 237 panel surya, 21 instalasi metana dan biogas, 8 mikrohidro, 2 biodiesel, serta 1 sistem hybrid. Secara keseluruhan, kapasitas energi baru terbarukan yang dimanfaatkan mencapai sekitar 1,35 MWp, disertai produksi biogas dan metana sebesar 959.302 meter kubik.

Implementasi DEB telah memberikan manfaat kepada 283.961 jiwa, termasuk 62 penyandang disabilitas, sekaligus menciptakan nilai ekonomi sekitar Rp5,65 miliar per tahun. Program tersebut juga mendukung produksi padi sebesar 21.357 ton per tahun serta berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon secara kumulatif sekitar 1,09 juta ton CO2e.

Keberlanjutan program turut diperkuat oleh 223 Local Hero tersertifikasi yang berperan dalam pengoperasian serta memastikan keberlanjutan pemanfaatan energi di tengah masyarakat.

Dorong Hilirisasi Riset dan Teknologi Tepat Guna

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto turut menyempatkan diri mengunjungi booth tiga program DEB binaan Kilang Cilacap. Kunjungan tersebut dilakukan bersama Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza dan Komisaris Pertamina Nanik S. Deyang.

Brian mengapresiasi implementasi DEB yang dinilai menjadi contoh nyata pemanfaatan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki berbagai hasil riset dan inovasi yang berpotensi untuk terus dikembangkan dan diterapkan di desa-desa.

“Kolaborasi antara industri, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat dapat membuka ruang yang lebih luas bagi hilirisasi riset dan pengembangan teknologi tepat guna. Inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi akan semakin memberikan dampak apabila dapat diimplementasikan dan menjawab kebutuhan nyata masyarakat,” tutur Brian.

Festival DEB 2026 menjadi momentum untuk memperlihatkan berbagai inovasi pemanfaatan energi terbarukan sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Tiga program binaan Pertamina Patra Niaga RU Cilacap menjadi contoh bagaimana energi bersih dapat diintegrasikan dengan potensi lokal untuk menciptakan manfaat sosial, lingkungan, dan ekonomi secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dari Kandang & Pasar, Warga Kutawaru Binaan Kilang Cilacap Nyalakan Energi Kemandirian

narastya, Cilacap — Dari kandang puyuh dan pasar, harapan kemandirian energi tumbuh di Kelurahan Kutawaru, Cilacap. Melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan, Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap aktif mendorong masyarakat untuk melihat potensi sekitar, termasuk mengubah limbah yang selama ini dipandang sebagai persoalan menjadi sumber daya yang bernilai.

Semangat ini diwujudkan melalui pelatihan pengelolaan biogas yang menjadi bagian dari program Masyarakat Mandiri Kutawaru (MAMAKU), Jumat (14/8/2026). Sebanyak 14 warga dari kelompok Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) mengikuti pelatihan mengolah limbah organik menjadi sumber energi alternatif, biogas.

Pelatihan menghadirkan instruktur dari Politeknik Negeri Cilacap (PNC), Rosita Dwityaningsih, dosen sekaligus Koordinator Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri. Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengumpulan dan pemanfaatan limbah kotoran ternak puyuh serta sampah organik dari pasar sebagai bahan baku biogas.

Tidak berhenti pada teori, peserta juga diperkenalkan dengan teknik pengoperasian dan pengelolaan mesin biogas agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

Bagi warga Kutawaru, pengetahuan ini bukan hanya sebagai keterampilan baru namun juga menjadi langkah membangun kemampuan Masyarakat, menyelesaikan persoalan dengan memanfaatkan potensi di lingkungan sendiri.

Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan, mengatakan program tersebut menjadi bukti konsistensi mengembangkan potensi masyarakat Kutawaru secara berkelanjutan.

“Di antaranya melalui budidaya ternak puyuh oleh kelompok P4S serta pengembangan Pasar Amarta. Aktivitas ini menghasilkan limbah organik yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan persoalan lingkungan,” jelasnya.

img 2008

Menurut Agus, kondisi geografis Kutawaru turut menjadi tantangan bagi Masyarakat, mengingat Lokasi kelurahan terpisah dari pusat pemerintahan Kota Cilacap oleh perairan Bengawan Donan. Kondisi ini membuat warga menghadapi keterbatasan akses terhadap sejumlah kebutuhan dasar, termasuk pengelolaan dan pembuangan limbah, khususnya organik.

“Maka, dibutuhkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga bisa bekal bagi masyarakat menghadapi tantangan di masa depan. Pemanfaatan limbah menjadi biogas menjadi salah satu ikhtiar mengurangi timbulan sampah sekaligus menghadirkan sumber energi alternatif yang dapat dikelola masyarakat,” imbuh Agus.

Pelatihan biogas ini menjadi dukungan komitmen Kilang Cilacap dalam mendorong terwujudnya Desa Energi Berdikari (DEB). Hal ini juga selaras dengan program Cegah Boros Energi dengan Edukasi Masyarakat (CERDAS), sebuah inisiatif RU Cilacap dalam rangkaian Bulan Energi & Loss 2026, melalui peningkatan kapasitas dan keterampilan masyarakat.

Melalui capacity building, Pertamina berharap masyarakat Kutawaru semakin percaya diri dalam mengelola potensi lokal. Limbah dari kandang puyuh maupun aktivitas pasar yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan, perlahan dapat dipandang sebagai bahan baku yang memiliki nilai guna.

Program tersebut juga turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan), SDGs 2 (Tanpa Kelaparan), SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), SDGs 7 (Energi Bersih & Terjangkau), SDGs 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), serta SDGs 15 (Ekosistem Daratan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

50 Tahun Kilang I Pertamina Patra Niaga RU Cilacap: Menjaga Nyala Energi, Menguatkan Doa, dan Berbagi pada Sesama

narastya, Cilacap — Lima puluh tahun bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan panjang tentang ketekunan, pengabdian, dan ribuan tangan yang pernah bekerja untuk menjaga nyala energi negeri.

Bagi Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap, setengah abad perjalanan Kilang I menjadi momentum untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan mengucap syukur.

Suasana khidmat terasa di area Control Room Fuel Oil Complex (FOC) I, Senin sore (24/8/2026). Di tempat yang menjadi salah satu pusat kendali operasi, Perwira Pertamina berkumpul memperingati HUT ke-50 Kilang I -sebuah unit yang menjadi bagian penting dari perjalanan panjang RU Cilacap.

Pjs. Group Head of Operation & Manufacturing (GHOM) RU Cilacap, Erdyanto Perkasa, menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan tasyakuran ini.

Menurutnya, di balik kecanggihan teknologi dan ketangguhan sistem operasi kilang, selalu ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yakni kekuatan doa dan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Sehebat dan secanggih apa pun teknologi, ada kekuatan yang lebih besar dari semuanya. Kekuatan doa dan spiritual kepada Tuhan Yang Maha Kuasa tidak boleh disepelekan. Karena pada akhirnya, kita harus senantiasa yakin dan percaya bahwa kekuasaan Tuhan berada di atas segalanya,” ujar Erdyanto.

Perjalanan Kilang I berawal dari pembangunan pada 1974. Dua tahun kemudian, tepatnya 24 Agustus 1976, unit ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto. Tanggal tersebut kemudian menjadi tonggak peringatan HUT FOC I atau Kilang I.

Awalnya, Kilang I memiliki kapasitas 100 ribu barel/ hari. Kompleks ini terdiri atas Fuel Oil Complex (FOC) I, Lube Oil Complex (LOC) I, dan Utilities, yang dirancang untuk mengolah minyak mentah dari Timur Tengah menjadi berbagai produk energi.

Tidak hanya bahan bakar minyak (BBM), kilang juga dirancang menghasilkan produk non-BBM, termasuk Lube Base Oil sebagai bahan dasar minyak pelumas serta aspal.

Perjalanan itu terus berkembang. Melalui Debottlenecking Project pada awal 1996, kapasitas FOC I meningkat menjadi 118.000 barel per hari.

Seiring waktu, inovasi dan pengembangan terus dilakukan. Hadirnya Kilang Langit Biru Cilacap (KLBC) memperkuat kemampuan kilang dalam menghasilkan produk berkualitas tinggi, termasuk Pertamax Turbo yang memenuhi standar Euro 4.

Lima puluh tahun kemudian, semangat untuk terus bertumbuh tidak berhenti. RU Cilacap kini juga mengambil bagian dalam perjalanan menuju energi yang lebih hijau melalui pengembangan produk energi hijau, termasuk Green Diesel dan Green Avtur.

whatsapp image 2026 08 27 at 05.19.06 (1)

Peringatan 50 tahun Kilang I sore itu tidak berhenti pada rasa syukur. Di tengah peringatan perjalanan panjang, para Perwira Pertamina juga menyalurkan donasi kepada Panti Asuhan Khoiru Ummah, Cilacap.

Langkah sederhana ini menjadi pengingat bahwa keberadaan kilang tidak pernah terpisahkan dari masyarakat.

Acara dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan Ustaz Yasri Ofrizal. Pesan-pesan penguat ruhani menjadi refleksi bagi para Perwira, mengingatkan kembali pentingnya menjaga keseimbangan antara profesionalisme, ikhtiar, dan ketundukan kepada Tuhan.

Rangkaian tasyakuran ditutup dengan pemotongan tumpeng, sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan panjang yang telah dilalui sekaligus doa untuk langkah-langkah yang akan datang.

Di usia emasnya, Kilang I konsisten menjaga nyala energi negeri, menguatkan doa dan terus berbagi untuk sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pertamina Kilang Cilacap Raih Gold Medal di Ajang Inovasi Internasional IEI 2026 Guangzhou

narastya, Guangzhou, China — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan perwira Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap di kancah internasional.

Pada ajang The 12th International Exhibition of Invention (IEI) yang berlangsung pada 21–23 Agustus 2026 di Guangzhou, China, gugus inovasi Pertamix berhasil meraih Gold Medal.

Penghargaan diberikan atas inovasi “Enhancing Treated Water Supply Security and Supporting Sustainable CO₂ Emission Reduction Through the Replication of an Engineered Mobile Reverse Osmosis (RO) System Configuration”.

Tak hanya itu, inovasi gugus Pertamix juga memperoleh penghargaan khusus ARCA Medal dari Croatian Union of Innovators, sebagai pengakuan tambahan atas inovasi yang dinilai memiliki keunggulan dan potensi implementasi.

Tim gugus Pertamix beranggotakan Ipuk Suseno Budi Wiworo (Engineering & Development), Dexter Musa Siahaan (Engineering & Development), Ghifari Nurachmad (Production III), Adif Alfianto (Production III), dan Eko Prasetyo (Maintenance Execution I).

Pendamping saat Forum Internasional, Muhamad Hasan Ismail menerangkan ajang IEI 2026 merupakan forum internasional yang mempertemukan inovator, peneliti, pelaku industri, serta institusi dari berbagai negara untuk menampilkan karya dan teknologi inovatif.

“Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangkaian Belt & Road and BRICS Competition of Skills Development and Technology Innovation,” urai Hasan yang juga Manager Human Capital (HC) RU Cilacap.

Keberhasilan gugus Pertamix di Guangzhou menjadi bukti bahwa inovasi yang lahir dari lingkungan operasional Kilang Cilacap mampu bersaing dan mendapatkan apresiasi di tingkat internasional.

Fasilitator gugus Pertamix, Ipuk Suseno Budi Wiworo menambahkan inovasi yang diusung berfokus pada peningkatan keamanan dan keandalan pasokan treated water sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi CO₂ secara berkelanjutan melalui replikasi konfigurasi sistem Mobile Reverse Osmosis (RO) yang telah direkayasa.

“Teknologi ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas dalam mendukung kebutuhan pengolahan air, sekaligus menjadi bagian dari upaya peningkatan efisiensi dan keberlanjutan operasional kilang,” jelas Ipuk.

Dengan pendekatan inovatif tersebut, lanjut Ipuk, gugus Pertamix tidak hanya menjawab kebutuhan operasional, tetapi juga menghadirkan solusi yang selaras dengan prinsip environmental sustainability, efisiensi sumber daya, dan pengurangan jejak karbon.

Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan menambahkan perolehan Gold Medal dan ARCA Medal menjadi pencapaian penting bagi Pertamina Patra Niaga RU Cilacap. “Hal ini sekaligus menunjukkan konsistensi perusahaan dalam mendorong budaya inovasi di lingkungan kerja,” imbuhnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kilang Cilacap Berikan Pelatihan Diversifikasi Puyuh, Dukung Ketahanan Pangan & Kemandirian Ekonomi Perempuan Kutawaru

narastya, Cilacap — Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat terus dilakukan PT Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap melalui Program TJSL Masyarakat Mandiri Kutawaru (MAMAKU).

Salah satunya dengan memberikan Pelatihan Diversifikasi Produk Puyuh menjadi Produk Bernilai Ekonomi, di Kelurahan Kutawaru, Cilacap Tengah, Jumat (14/8/2026).

Acara ini merupakan program turunan MAMAKU, khususnya pengembangan kegiatan di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S). Sebanyak 11 anggota kelompok perempuan yang merupakan eks Pekerja Migran Indonesia (PMI) mengikuti pelatihan ini.

Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan menyebutkan selain meningkatkan kapasitas masyarakat, kegiatan ini juga menjadi upaya memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal. “Hasil budidaya puyuh yang selama ini berupa telur dan daging tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga menjadi produk olahan yang lebih beragam,” ujarnya.

Diversifikasi tersebut memungkinkan bahan pangan lokal memiliki masa pemanfaatan yang lebih luas sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Pengembangan diversifikasi produk puyuh menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan pangan berbasis potensi lokal.

“Ketersediaan bahan pangan yang diproduksi sendiri, disertai kemampuan mengolah dan mengembangkan produk, dapat memperkuat kapasitas masyarakat memenuhi kebutuhan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk dari luar wilayah,” imbuh Agustiawan.

Di sisi lain, pengolahan hasil puyuh menjadi produk bernilai jual membuka peluang terbentuknya rantai nilai ekonomi baru, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pemasaran.

“Bagi kelompok perempuan eks PMI, keterampilan tersebut diharapkan menjadi modal mengembangkan usaha produktif dan meningkatkan pendapatan keluarga,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Officer CSR & SMEPP Kilang Cilacap, Lifania Riski Nugrahani menyerahkan bantuan perlengkapan memasak untuk mendukung kegiatan pengolahan produk dan pengembangan usaha kelompok.

Sesi pelatihan menghadirkan Dosen Program Studi Produk Agroindustri Politeknik Negeri Cilacap, Mardiyana sebagai instruktur. Peserta mendapatkan pembekalan tentang pemanfaatan produk turunan puyuh, khususnya daging dan telur, untuk diolah menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah.

Peserta mendapatkan pemaparan mengenai diversifikasi produk, pengenalan bahan, serta prinsip dasar pengolahan pangan. Selanjutnya, peserta melakukan penimbangan bahan dan penentuan komposisi, sebelum praktik langsung proses pengolahan hingga pemasakan dimsum berbahan dasar produk turunan puyuh.

Pemilihan dimsum menjadi salah satu bentuk diversifikasi dilakukan untuk memberikan alternatif produk olahan yang dapat dikembangkan dan dipasarkan oleh kelompok.

Dengan mengolah bahan pangan lokal menjadi produk siap konsumsi, masyarakat tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga memiliki peluang untuk mengembangkan kegiatan ekonomi produktif.

Melalui kegiatan ini, Program MAMAKU berupaya mengintegrasikan aspek ketahanan pangan, peningkatan keterampilan, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Di balik Lancarnya Operasional, Kilang Cilacap Kawal Harmoni Hubungan Industrial

narastya, Cilacap – Di balik operasional kilang yang berjalan selama 24 jam, ada ribuan pekerja dengan beragam peran yang memastikan energi tetap mengalir untuk masyarakat. Menyadari bahwa keberlangsungan operasi juga ditentukan oleh hubungan kerja yang sehat dan terlindungi, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap memperkuat komitmen kepatuhan hukum ketenagakerjaan, termasuk dalam pengelolaan tenaga alih daya atau TAD.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop & Upskilling Kepatuhan Aspek Ketenagakerjaan pada Pengelolaan Alih Daya di Lingkungan Pertamina Group Tahun 2026 yang digelar selama dua hari, 18–19 Agustus 2026 di Astonn In Cilacap, sebagai ruang pemahaman regulasi sekaligus penguatan tata kelola dan pengawasan.

Kegiatan ini diikuti pekerja Pertamina Group, pimpinan dan manajemen perusahaan alih daya, serta menghadirkan narasumber dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah, Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian Kabupaten Cilacap, Hakim Ad Hoc Pengadilan Hubungan Industrial dari Pengadilan Negeri Semarang, serta kalangan akademisi, praktisi hukum ketenagakerjaan dan HSSE.

Pjs. Group Head of Operation & Manufacturing (GHOM) RU Cilacap, Erdyanto Perkasa menyampaikan penguatan kepatuhan menjadi semakin penting mengingat RU Cilacap merupakan rumah bagi sekitar 1.530 pekerja organik, 746 tenaga alih daya mandays, serta kurang lebih 4.000 personel kontraktor temporer.

“Dengan skala operasional dan jumlah tenaga kerja yang besar, pengelolaan ketenagakerjaan dan alih daya yang tertib, terawasi, serta patuh terhadap ketentuan menjadi sangat penting untuk menjaga kelancaran operasi sekaligus hubungan industrial yang harmonis,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Akademisi Hukum Ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ari Hernawan, yang membawakan materi ‘Membangun Fondasi Kepatuhan Regulasi yang Kuat dalam Pengelolaan Alih Daya dalam Mewujudkan Hubungan Industrial yang Produktif dan Berkelanjutan’, menekankan pentingnya kemampuan perusahaan beradaptasi terhadap dinamika regulasi ketenagakerjaan.

“Fondasi kepatuhan yang kuat perlu dibangun melalui pemahaman regulasi yang utuh, penerapan yang konsisten, serta pengawasan yang efektif agar pengelolaan alih daya tidak hanya memenuhi aspek hukum, tetapi juga mampu mendukung hubungan industrial yang produktif dan berkelanjutan,” jelas Ari.

Antusiasme peserta turut terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab bersama para narasumber, dengan beragam pertanyaan seputar implementasi regulasi, pengawasan, hingga tantangan pengelolaan tenaga alih daya di lingkungan kerja.

Dari perspektif mitra Perusahaan Alih Daya, Ruseno, menyebut forum tersebut relevan dengan kebutuhan di lapangan. “Workshop ini menjadi ruang bagi kami untuk meningkatkan pemahaman dan kualitas pengelolaan tenaga alih daya, sekaligus memperkuat koordinasi agar kepatuhan dan hubungan industrial yang harmonis dapat dijaga bersama,” ungkapnya.

RU Cilacap secara berkelanjutan menyelaraskan praktik pengelolaan ketenagakerjaan dengan perkembangan regulasi, termasuk UU Cipta Kerja, PP 35/2021, PP 36/2021, serta ketentuan ketenagakerjaan terbaru yang relevan.

Melalui perspektif regulator, praktisi peradilan hubungan industrial, akademisi, konsultan hukum, dan penyedia jasa, workshop ini diharapkan menghasilkan pemahaman yang semakin komprehensif sekaligus langkah perbaikan konkret dalam pengawasan, penanganan keluhan, dan pencegahan potensi perselisihan hubungan industrial.

Bagi Kilang Cilacap, kepatuhan ketenagakerjaan bukan sekadar pemenuhan kewajiban regulasi, tetapi menjadi bagian dari tata kelola perusahaan yang bertanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan bisnis dan keandalan operasi kilang.

Melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, RU Cilacap berkomitmen terus membangun ekosistem pengelolaan alih daya yang taat regulasi, transparan, dan bertanggung jawab guna mewujudkan hubungan industrial yang produktif, harmonis, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pertamina Kilang Cilacap Dorong Pemanfaatan Energi Bersih & Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan

narastya, Cilacap — Komitmen Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap dalam mendorong pemanfaatan energi bersih sekaligus pemberdayaan masyarakat terus diperkuat melalui berbagai program berbasis energi baru terbarukan (EBT).

Hal itu disampaikan Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Agustiawan, pada kuliah umum Dies Natalis ke-3 Program Studi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan Politeknik Negeri Cilacap (PNC) di kampus tersebut, Selasa (11/8/2026).

Agustiawan menyampaikan pengembangan energi bersih tidak hanya terkait energi alternatif, tetapi juga dapat menjadi penggerak pemberdayaan, penguatan ekonomi lokal, serta upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.

Dikatakan, salah satu pendekatan dalam EBT ini adalah pemanfaatan potensi energi surya di Jawa Tengah. Tercatat 12 lokasi potensial pengembangan PLTS dengan karakteristik lahan dan aksesibilitas yang mendukung, salah satunya wilayah Cilacap dengan potensi yang cukup tinggi.

Dicontohkan implementasi pemberdayaan EBT di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Cilacap berupa program Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan (MAPAN). Ini adalah unggulan TJSL pemberdayaan petani dan pelaku UKM pertanian melalui pendekatan holistik dan berkelanjutan dari hulu hingga hilir.

“Tercatat 233 orang penerima manfaat, terdiri dari petani gurem, petani perempuan, buruh tani harian, anak-anak dan masyarakat miskin. EBT mendukung aktivitas pertanian, seperti irigasi PLTS, irigasi energi hybrid, inovasi penyemprot pestisida, hortikultura dan irigasi tetes berbasis EBT, hingga integrasi sistem pertanian dari hulu ke hilir,” ungkapnya.

Pada kolaborasi EBT Program Kalijaran MAPAN, total daya mencapai 17.540 Wp yang berkontribusi positif pada aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan well-being.

“Di sisi lingkungan program ini juga mencatat pengelolaan 660 kg limbah pertanian dan rata-rata debit air sebesar 150.000 liter per hari,” tegasnya.

Di sisi ekonomi, program menghasilkan pendapatan padi Rp220,35 juta per panen per kelompok, pendapatan diversifikasi produk Rp5,335 juta per bulan, serta hasil panen hortikultura dan perikanan Rp7,15 juta. Selain itu, tercatat penghematan penggunaan pompa diesel, Rp4,5 juta.

Agustiawan juga menyoroti pemanfaatan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO) sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF). “Pengolahan UCO menjadi SAF dapat menurunkan emisi Gas Rumah Kaca hingga 80 persen dibandingkan pengolahan kerosene menjadi avtur,” imbuhnya.

Koordinator Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan PNC, Radhi Ariawan menyambut baik kontribusi Kilang Cilacap dalam pengembangan EBT. “Implementasi energi bersih dari dunia industri ini penting menambah pemahaman dan pengetahuan mahasiswa, terkait pemanfaatan energi terbarukan secara nyata di masyarakat,” ujarnya.

Antusiasme juga disampaikan mahasiswa PNC, Alika, yang menilai pemaparan langsung dari perusahaan menjadi tambahan ilmu dan motivasi mahasiswa untuk tak henti belajar dan berinovasi. “Terimakasih Pertamina, materi ini menjadi bekal ilmu yang sangat bermanfaat,” kata Alika.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, Pertamina Patra Niaga RU Cilacap terus mendorong pemanfaatan EBT tidak hanya sebagai solusi energi, tetapi juga sebagai instrumen untuk menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MAMAKU SIGAP Antar Kilang Cilacap Raih Penghargaan Platinum ISRA 2026

narastya, Solo – Komitmen Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap dalam menjalankan program tanggung jawab sosial dan pemberdayaan masyarakat kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional.

Kilang Cilacap berhasil meraih penghargaan Platinum pada ajang Indonesia Social Responsibility Awards (ISRA) 2026 untuk kategori video dokumentasi program Masyarakat Mandiri Kutawaru – Sistem Integrasi Pengelolaan Lingkungan Kawasan Pesisir (MAMAKU SIGAP).

Penghargaan tersebut diterima oleh Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan, pada malam penganugerahan ISRA 2026 yang berlangsung di Solo, Kamis malam (6/8/2026).

ISRA 2026 merupakan ajang apresiasi dan forum kolaborasi nasional yang diselenggarakan oleh Prospectus untuk memperkuat praktik keberlanjutan serta implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) di Indonesia.

Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan, mengatakan penghargaan tersebut menjadi bukti konsistensi Kilang Cilacap menghadirkan program pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus lingkungan.

whatsapp image 2026 08 08 at 11.51.56

“Penghargaan ini kembali meneguhkan posisi Kilang Cilacap yang konsisten mengembangkan pemberdayaan masyarakat di wilayah operasional. Melalui MAMAKU SIGAP, kami berupaya menghadirkan inovasi sosial yang tidak hanya menjawab persoalan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat berkelanjutan,” ujar Agustiawan.

Ia menjelaskan, MAMAKU SIGAP merupakan inovasi sosial berbasis masyarakat yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.

Keberhasilan program ini tercermin dari tumbuhnya berbagai unit usaha berbasis multiple commodities dan multiple income dengan total omzet mencapai Rp366 juta per bulan. “Selain itu, lebih dari 1.500 rumah tangga terlibat aktif dalam pengelolaan dan pengembangan aspek sosial, ekonomi, serta lingkungan di kawasan pesisir Kutawaru,” kata Agustiawan.

Dari sisi keberlanjutan lingkungan, MAMAKU SIGAP mencatat berbagai capaian signifikan, di antaranya pengelolaan 7,6 ton sampah per tahun, penanaman mangrove seluas 8,5 hektare, pengembangan lebih dari 78 ribu bibit mangrove baik wellbag maupun non-wellbag, pengurangan emisi 5,46 ton CO2eq per tahun melalui pemanfaatan palet, serta pengurangan emisi 877 ton CO2eq per tahun melalui penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Steering Committee ISRA 2026, Miftah Faridl Widhagdha, mengatakan tema Catalyzing Collective Change for Scalable Impact menekankan pentingnya aksi kolektif lintas sektor dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan melalui pengembangan solusi yang adaptif, kolaboratif, dan mudah direplikasi.

Penghargaan Platinum ISRA 2026 diharapkan semakin memotivasi Kilang Cilacap untuk terus menghadirkan program-program tanggung jawab sosial yang inovatif, berkelanjutan, serta memberikan nilai tambah bagi masyarakat, lingkungan, dan pencapaian target pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *