Menanam Kopi di Ujung Segara Anakan: Ikhtiar Patrapala Kilang Cilacap Merawat Alam dari Dataran Rendah

whatsapp image 2026 09 01 at 06.49.26 (2)

narastya, Cilacap – Pagi itu, perjalanan tidak dimulai dari jalan raya. Dari Markas Kopassus Daun Lumbung, Cilacap, sebanyak 81 aktivis pecinta lingkungan bersiap menembus perairan Segara Anakan. Satu perahu RIF dan empat LCR milik Kopassus menjadi kendaraan rombongan menuju sebuah ruang hijau yang tersembunyi di antara bentang mangrove.

Tujuannya adalah Arboretum Mangrove Konservasi Laguna Kawasan Segara Anakan Cilacap (Kolak Sekancil), Kampung Laut, Sabtu (29/8/2026).

Perjalanan sekitar satu jam membelah perairan Segara Anakan. Di balik riak air dan rimbunnya mangrove, rombongan Badan Pembina Olahraga (Bapor) Pertamina melalui Pecinta Alam (Patrapala) Pertamina Patra Niaga RU Cilacap akhirnya tiba di arboretum yang menjadi salah satu ruang pembelajaran sekaligus laboratorium mangrove di kawasan tersebut.

Namun, perjalanan itu bukan sekadar menyusuri perairan. Ada hal penting yang hendak ditanam dan diharapkan tumbuh jauh melampaui sebatang pohon.

Sesampainya di Arboretum Kolak Sekancil, rombongan segera melakukan penanaman 100 bibit kopi jenis Liberica. Kegiatan ini melibatkan Serikat Pekerja Pertamina Patra Wijayakusuma (SP PPWK), Manager Risk Management, Dwi Jatmoko sekaligus Pembina Bapor Patrapala, BKSDA Cilacap, Green Earth Team, Kayuwangi Foundation, serta Kopassus.

Bagi Patrapala, menanam pohon bukan hanya menambah jumlah vegetasi. Ada harapan agar setiap bibit menjadi bagian dari ekosistem yang lebih kuat sekaligus membuka pengetahuan baru mengenai kemungkinan budidaya tanaman kopi di kawasan pesisir.

Koordinator Patrapala, Fahmi Purnomo, mengatakan penanaman kopi Liberica merupakan upaya pelestarian lingkungan sekaligus riset dan penelitian.

“Kopi jenis Liberica menarik diteliti karena merupakan jenis kopi yang dapat tumbuh di dataran rendah, bahkan pada ketinggian 0 meter di atas permukaan laut,” ujar Fahmi.

whatsapp image 2026 09 01 at 06.49.26

Karakter tersebut menjadi alasan mengapa Liberica dipilih untuk ditanam di Arboretum Kolak Sekancil. Kawasan yang berada di dataran rendah itu selama ini menjadi ruang konservasi sekaligus laboratorium mangrove binaan Pertamina Patra Niaga RU Cilacap.

Di tempat ini, alam tidak hanya dijaga, tetapi juga dipelajari. Penanaman 100 bibit Liberica menjadi sebuah eksperimen kecil.

Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan yang memadukan semangat kepedulian lingkungan, kolaborasi, dan edukasi tersebut.

“Arboretum Kolak Sekancil tidak hanya penting sebagai kawasan konservasi, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan berbagai inovasi berbasis lingkungan,” ungkapnya.

Ditambahkan, kolaborasi berbagai pihak dalam kegiatan tersebut menjadi modal penting untuk memastikan upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan secara konsisten.

Di antara akar-akar mangrove yang mencengkeram lumpur, air payau yang terus bergerak, dan kehidupan yang bergantung pada ekosistem pesisir, 100 bibit kopi itu kini mendapatkan tempat untuk tumbuh.

Patrapala memilih cara sederhana merawat bumi dengan cara datang, menanam, dan belajar. Sebab menjaga alam pada akhirnya bukan hanya apa yang bisa dipetik hari ini, namun tentang apa yang masih bisa tumbuh untuk generasi berikutnya.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *